10 Tempat ini Jadi Saksi Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api


Bandung Lautan Api
Kantor Berita Domei (Drie Kleur Bandung. (Foto: DIsbudpar Kota Bandung)

BANDUNG NEWS – Di Kota Bandung terdapat stilasi jejak peristiwa Bandung Lautan Api yang tersebar di berbagai titik. Titik ini menjangkau sekitar 10 yang tersebar diberbagai wilayah yang ada di Kota Bandung. Mulai dari stilasi 1 yang berada di Dago hingga stilasi 10 yang berada di depan Gereja Gloria.

Jika pada umunya masyarakat Kota Bandung mengetahui keberadaan stilasi Bandung Lautan Api ini sesuai dengan urutannya, urutan stilasi yang ada saat ini merupakan penilaian mengambarkan urutan akan peristiwanya.

Berikut dirangkum jejak peristiwa Bandung Lautan Api dari titik stilasi ke stilasi lainnya pada urutan peristiwa.

Stilasi 1 ( Kantor Berita Domei (Drie Kleur/ Bank BTPN Jl Ir H. Juanda)

Berita tentang kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II berusaha ditutup oleh Jepang agar tidak menyebar di kalangan rakyat Indonesia, terutama para pemuda. Tindakan itu gagal, Indonesia tetap merdeka, para pemuda kantor berita ini langsung memuatnya secara langsung dalam Buletin Berita Domei. Para wartawan surat kabar Tjahaja di Bandung menyambut gembira berita ini.

Rencana karena mereka akan memuat berita proklamasi di halaman depan tetapi rencana ini gagal tercium pihak Jepang. Akhirnya para wartawan menuliskan berita proklamasi di papan tulis dan memancangnya di depan kantor serta beredar pula selebaran berhuruf merah yang dibuatkan percetakan Siliwangi. Hari itu juga, berita proklamasi menyebar cepat di seluruh Kota Bandung.

Stilasi 2 ( Gedung Denis Bank Jabar JL. Braga)

Proklamasi menimbulkan semangat yang tinggi di kalangan rakyat. Antara lain diwujudkan dengan pengambilalihan berbagai instansi dan instalasi, termasuk Kantor Pos, Telefon & Telegraf (PTT); Stasiun Radio, Kantor Jawatan Kereta Api (DKA) dan Pabrik Senjata (ACW/AI). Jika cara diplomasi gagal, tak jarang dilakukan dengan cara paksa. Di kantor-kantor itu, Hinomaru diturunkan dan diganti Merah Putih. Aksi ini ternyata menyebar ke seluruh kota seperti yang terjadi di Gedung DENIS di Jl Braga. Oktober 1945.

Di tengah perkelahian antara pemuda dan ex-interniran Belanda di Gedung DENIS (De Eerste Nederlands Indische Spaarkas en Hypotheekbank), sejumlah pemuda naik ke atap gedung dan bergerak ke menara yang mengibarkan bendera Belanda. Dua di antaranya, Endang Karmas & Mulyono. Kedua berlari di atap, memanjat menara kemudian memanjat tiang bendera. Walaupun ada kendala karena saat memanjat tiang bendera mendengan suara ledakan senjata tapi akhirnya dapat diraihnya sebilah bayonet, dan dirobek-robeknya bagian biru bendera. Dan didukungnya oleh bendera Merah Putih.

Stilasi 3 (Gedung NILLMIJ (Ged. Asuransi Jiwasraya)

Tentara Keamanan Rakjat (TKR) Komandemen I jawa Barat dibagi menjadi tiga divisi. Salah satunya adalah Divisi III yang meliputi Keresidenan Bandung. Divisi yang semula dipimpin Kol. Arudji Kartawinata ini pada Oktober 1945 kemudian beralih ke Kol. AH Nasution. Pada saat yang sama, di Bandung dibentuk Resimen 8 yang dipimpin LetKol Omon Abdurrahman. Resimen 8 ini bermarkas di gedung NederlandschIndische Levensvezekerings en Liffrente Maatschappij (NILLMIJ), sekarang Gedung Asuransi Jiwasraya di sisi Utara alun-alun Bandung.

Resimen ini memiliki 6 batalyon, yang masing-masing bermarkas di Cikakak, Tegallega, Cicadas, Ujung Berung – Cicalengka, Gedebage dan Lembang. 13 Oktober 1945 pukul 9 pagi, saat pimpinan TKR sedang melakukan rapat di gedung ini, tiba-tiba muncul konvoi pasukan komando Inggris. Karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya, kedatangan mereka dicurigai oleh semua badan perjuangan. Meskipun mereka mengaku memiliki baik-baik saja untuk mengatur tentara Jepang dan para interniran Belanda. Saat bumi hangus dimulai pada peristiwa Bandung Lautan Api, gedung NILLMIJ ini menjadi salah satu gedung yang dibakar pertama kali.

Stilasi 4 ( Simpangsteeg No 7 (Jl Simpang)

Walaupun telah diultimatum AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), gangguan para pejuang terhadap Inggris (dan NICA) di Bandung tetap ada. 17 Maret 1946 LetJen Montagu Stophord, Panglima Tertinggi AFNEI memberi ultimatum kedua kepada PM Syahrir agar pasukan RI meninggalkan Bandung Selatan sejauh 11 km dari pusat kota. Hanya pemerintah sipil, polisi dan warga sipil yang boleh tetap tinggal. Batas ultimatum adalah 24 Maret 1946 pukul 24.00. Ultimatum kedua ini melalui radio dan penyebaran pamflet dari udara di Bandung Selatan yang membuat marah para pejuang pemuda.

Sjahrir lalu mengutus MayJen Didi Kartasasmita (Panglima Komandemen Jawa Barat) dan Mr Sjafrudin Prawiranegara (Menteri Muda Keuangan) ke Bandung. Sjafrudin berunding dengan para pemimpin para pejuang, sedangkan Didi diajak meninjau kondisi kerusakan akibat serangan para pejuang di seputar kota. sejak kedatangan kedua utusan PM Sjahrir itu, para pemimpin pertemuan untuk membahas ultimatum. Pada 22 Maret 1946 diadakan rapat di Simpangsteeg No 7 yang dipimpin Komandan Resimen 8 LetKol Omon Abdurrahman. Dalam rapat ini muncul keinginan untuk menghadapi pertempuran.

Stilasi 5 ( SD Dewi Sartika Oto Iskandardinata – Kautamaan Istri)

Situs ini digunakan sebagai dapur umum bagi Tentara Kemanan Rakyat (TKR) dan para pemuda pejuang dari berbagai laskar lainnya. Dapur umum ini dikelola oleh Laskar Wanita (Laswi) yang tediri dari para pemudi yang berjuang di garis belakang. Selain dapur umum, Laskar Wanita juga ikut berjuang di garis depan sebagai laskar medik. Ada juga anggotanya yang ikut melawan tentara Inggris. Tentara Gurkha –pasukan Inggris dari India– kala itu sangat ditakuti para pejuang umumnya.

Tapi dalam pertempuran di Bandung, justru beberapa kepala Gurkha berhasil ditebas pedang para pejuang wanita. Tidak hanya Susilowati yang memenggal dan menyerahkan kepala tentara Gurkha kepada Nasution. Willy, seorang pejuang Laswi juga pernah memenggal kepala tentara Gurkha. Lalu diserahkannya kepala itu kepada komanda Laswi, Sumirah Yati. Sama seperti pejuang pria, para pejuang wanita ini bahu-membahu menangkis serangan Inggris. Keberanian telah menjadi citra tersendiri di antara para pejuang selama perang berlangsung di Bandung.

Stilasi 6 (Rumah & Markas Kol. Nasution (Jl Dewi Sartika, samping Pendopo)

Panglima Div III Kol Nasution melakukan sejumlah persiapan untuk melaksanakan perintah PM Sjahrir, mundur ke Selatan Bandung. Namun Kol. Nasution menegaskan jika Tentara Republik Indonesia (TRI) mundur, rakyatpun ikut mundur. Sementara itu, muncul kawat tanpa pengirim dari Yogyakarta (diduga dari Jend. Sudirman) yang berisi perintah “Pertahankan setiap jengkal daerah Republik sampai titik penghabisan darah”.

Karena ada dua perintah berbeda, maka di Bandung muncul dua kelompok yang berbeda. Untuk memutuskannya, pada 24 Maret di Markas Divisi III ini diadakan rapat para pimpinan pejuang. Akhirnya sebagai panglima divisi III, Nasution mengambil keputusan untuk mematuhi pemerintah pusat, namun tidak akan menyerahkan Bandung bulat-bulat. Bandung Selatan akan dibumi hanguskan.

Mengingat kekuatan yang ada sangat tidak seimbang (10.000 pejuang + 100 pucuk senjata vs 12.000 tentara Inggris & Belanda + senjata lengkap), maka demi menghindari banyak korban dari rakyat, melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoeangan Priangan (MP3) Panglima Div III akhirnya memutuskan & mengumumkan via RRI pada 24 Maret 1946:

1. Semua pegawai+rakyat harus keluar sblm 24.00.

2. Tentara melakukan bumi hangus.

3. Setelah matahari terbenam, Bandung Utara diserang TRI dari Utara.

Pasukan TRI di Selatan melakukan infiltrasi & bumi hangus. Bumi hangus akan meledak dengan ledakankan Indische Restaurant di ujung Jl Regentsweg, (sekarang Bank BRI di Alun-Alun) jam 24.00.

Stilasi 7 (Pertigaan Lengkong Dalam – Lengkong Tengah)

25 November 1945, terjadi banjir besar di Ci Kapundung. Saat banjir terjadi, sejumlah tentara Gurkha yang berada di sekitar Hotel Homann hanya menonton saja tanpa berupaya membantu. Sejumlah pemuda berusaha merebut senjata dari tentara-tentara Gurkha ini. Ketika banjir belum membesar, penduduk kampung memberi peringatan dengan bunyi kentongan bersahut-sahutan. Namun Inggris mengira bunyi ini sebagai tanda serangan. Bunyi kentongan dan usaha perebutan senjata membuat Inggris marah.

Tentara Gurkha dan NICA menyerang para pejuang dan penduduk dengan membabi buta. Tembakan dan mortir berjatuhan, antara lain dari Hotel Homann. Hasil sangat mengenaskan. Penduduk yang masih panik karena banjir banyak yang menjadi korban serangan. Korban di pihak rakyat berjatuhan, baik akibat banjir maupun akibat serangan Inggris dan NICA. Setelah banjir reda, tampak mayat-mayat penuh lumpur bergelimpangan di mana-mana. Penduduk beramai-ramai mengumpulkan mayat dan menguburkannya tanpa identitas. Muncul juga desas-desus bahwa banjir terjadi akibat tanggul di Bandung Utara dibobol NICA.

Stilasi 8 ( Jembatan Baru (Jl Lengkong)

2 Desember 1945 jam 10.00 pagi, Inggris berencana mengadakan diterniran di daerah Lengkong. Karena pasukan Inggris dan para pejuang saling tidak percaya – antara lain sebagai akibat dari polirik devide et impera NICA -, maka Inggris pemilik berat ke daerah Lengkong. Terjadilah pertempuran besar. Saat menyerang ke jurusan Lengkong ini, para pejuang bertahan di Jembatan Baru dari jam 08.00-14.00. Namun akhirnya kalah kuat karena musuh membantu serangan pesawat tempur. Pesawat Terbang Inggris membombardir daerah Lengkong & Lengkong Tengah. Banyak rumah dan gedung yang hancur. Puluhan penduduk sipil tewas.

Pemboman ini tentu saja meningkatkan kebencian rakyat kepada Inggris. Belum ada habisnya para pejuang serangan, pada 6 Desember 1945 jam 7.00 pagi Inggris kembali menikmati darat dan udara dengan pesawat B25 & Mustang ke markas-markas pasukan Angkatan Pemuda Indonesia (API) di Lengkong, Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Grote Postweg / Jl Asia Afika, dan Barisan Merah Putih (BMP) di daerah Ciateul. Dengan bantuan 200 pasukan Hisbullah pimpinan Husein Syah para pejuang terus melawan. pertempuran berjalan tidak seimbang sehingga banyak pejuang yang gugur.

Stilasi 9 SD ASMI (Jl Asmi)

Sebelum peristiwa Bandung Lautan Api terjadi, SD ASMI sempat menjadi markas para pejuang pemuda. Gedung ini dipakai sebagai markas oleh Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan Barisan Rakjat Indonesia (BRI). Kol. (Purn) Daeng kosasih Ardiwinata sempat berujar bahwa keakraban kedua organisasi pejuang itu ditunjukkan dengan menukarkan senjata. Saat diperintahkan mengungsi dan bumi hangus diumumkan oleh Panglima Div III Kol. Nasution, gedung inipun ditinggalkan penghuninya mengungsi.

Stilasi 10 NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Mij)/ Radio Hoshokyoku, Jl Moh Toha)

Pembacaan teks proklamasi dan berita kemerdekaan Indonesia berhasil diterima Kantor Berita Domei di Bandung melalui kawat. Setelah sempat dimuat dalam Buletin Berita Domei, berita ini sempat menyebar di Bandung. Tapi sayang hanya berlangsung singkat karena tercium Jepang. Melalui Hoshokyoku (Radio jepang) di Bandung, diumumkan larangan penyebarluasannya, disusul berita larangan susulan dari Domei. Meskipun tidak terbatas, jumlah penyiar dan teknisi antara lain Sakti Alamsjah yang menemukan berita dari buletin Domei kemudian akan tetap menyiarkannya jam 19.00 malam waktu Jawa.

Siaran dalam bahasa Indonesia & Inggris tersebut diulang pukul 20.00, 21.00 dan 22.00. Siaran radio membaca proklamasi ini ternyata dapat ditangkap di Amerika Serikat secara beranting. Akhirnya Proklamasi berhasil di seluruh dunia. Dan dalam siaran malam itu, para pemuda tidak lagi menggunakan panggilan “Bandung Hoshokyoku”. Untuk pertama Kalinya, panggilan yang digunakan adalah “Radio Republik Indonesia”.

(dra)