4 Tips Sukses Budidaya Sorgum Hasilkan Puluhan Juta


sorgun
sumber: pixabay

BANDUNG NEWS Sorgum merupakan salah satu tanaman serealia yang cukup populer. Di Jawa nama lain dari tanaman ini  cantele, yang sering menjadi tanaman sela atau tumpangsari dengan tanaman lainnya.

Sorgum berada satu sekeluarga dengan tanaman serealia lain seperti padi, jagung dan gandum dan sorgum. Semuanya dapat tumbuh meskipun tertanam di tanah kering yang kurang subur, relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Selain dapat dipanen hingga 3 kali dalam sekali tanam dengan masa pemeliharaan yang hampir sama dengan tanaman padi.

Adapun langkah-langkah untuk Budidaya Tanaman Sorgum seperti dikutip laman Kampus Tani, adalah sebagai berikut :

1. Pengelolahan Lahan

Langkah pertama  adalah penggemburan lahan menggunakan cangkul atau traktor.

Selanjutnya taburkan pupuk dasar berupa pupuk kandang dengan dosis 4-5 ton/hektar, pupuk kandang merupakan pupuk organik yang berguna untuk membantu pertumbuhan tanaman karena mengandung unsur hara makro dan mikro.

Baca Juga:  Peduli Lingkungan, Charm Indonesia Kenalkan Konsep Gaya Hidup Ethical Living for SDGs

Lahan yang telah bercampur pupuk di aplikasi pula dengan pembenah tanah. Yakni bahan untuk memperbaiki kesuburan tanah baik itu sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. Dengan demikian tanah akan menjadi produktif untuk pertumbuhan dan perkembangan organisme seperti tumbuhan dan mikroba tanah.

Diamkan lahan selama 2 hari agar semua masukan berproses sehingga lahan siap.

2. Penanaman

Proses penanaman sorgum  dengan cara membuat lubang tanam sedalam 5 cm dan memasukkan 2 benih sorgum di dalamnya. Kemudian tutup lubang tanam dengan tanah atau bokashi untuk hasil yang lebih baik. Jarak tanam antar lubang yaitu 20-25 cm.

Benih sorgum ini berasal dari biji sorgum yang telah masak dan telah di treatment terlebih dahulu atau membeli bibit dari dinas pertanian di toko-toko pertanian yang menyediakannya.

Baca Juga:  Peduli Lingkungan, Charm Indonesia Kenalkan Konsep Gaya Hidup Ethical Living for SDGs

3. Perawatan

Perawatan sehari-hari tanaman sorgum relatif tidak rumit, selain tindakan penyulaman dan pengairan, pada umur tanaman 20 hari perlu penyiangan atau pembersihan gulma. Tujuannya adalah untuk mengendalikan tumbuhan liar agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama.

Dalam kegiatan penyiangan terkadang ada pembumbunan atau ipuk. Yakni menumpuk tanah pada akar tanaman yang longsor karena berbagai sebab, baik itu akibat pengairan maupun air hujan.

Setelah tanaman berumur 1 bulan perlu proses aplikasi pupuk susulan menggunakan pupuk organik cair. Tujuannya untuk meningkatkan kesuburan tanaman serta memperbaiki dan meningkatkan kualitas organik di dalam tanah. Sehingga tanah atau lahan menjadi lebih remah, gembur, tidak liat bahkan keras dan juga untuk menjaga ketersediaan unsur hara di dalam tanah.

Lakukan kembali aplikasi pupuk yang sama manakala tanaman telah berumur 2 bulan.

Baca Juga:  Peduli Lingkungan, Charm Indonesia Kenalkan Konsep Gaya Hidup Ethical Living for SDGs

Bakal biji sorgum biasanya muncul setelah tanaman berumur kurang lebih 50 HST. Pada saat itu perlu pengendalian hama terutama burung dengan cara membrongsong bakal biji sorgum dengan plastik. Plastik sebagai pelindung bakal biji karena dianggap relatif lebih murah biayanya dibanding paranet.

4. Perawatan

Sorgum dipanen saat telah masak atau tua dengan ciri-ciri kulit buah telah berubah warna dari hijau menjadi hitam atau merah, dengan kulit buah sudah pecah serta terlihat isinya.

Dengan luas lahan 1 hektar dapat menghasilkan 2 ton sorgum.

Pemanenan dengan cara memotong bagian tangkai sekitar 7-10 cm dan mengumpulkannya kedalam wadah yang disiapkan.

Sorgum hasil panen ini selanjutnya akan diproses lebih lanjut mulai dari penjemuran, perontokan hingga penggilingan untuk dikupas kulitnya sampai penepungan.

[Amt]