8 Bangunan di Bandung ini Jadi Saksi Sejarah Kemerdekaan Indonesia


Saksi Sejarah
Instagram/gedungsate

BANDUNG NEWS Bandung adalah kota yang penuh kenangan. Selain memiliki berbagai destinasi wisata alam, Bandung memiliki banyak bangunan  saksi sejarah kemerdekaan Indonesia.

Mulai dari Gedung Sate yang menjadi ikon kota Bandung, hingga Benteng Pasir Ipis peninggalan bisa jadi daya tarik. Tentu saja, ada banyak cerita menarik di balik  bangunan-bangunan ini.

Nah, karena bakal ada peringatan Bandung Lautan Api pada 24 Maret ini, kami punya rekomendasi 8 bangunan saksi sejarah di kota Bandung yang bisa kamu kunjungi. Siapa tahu, ingin kembali belajar Sejarah seperti saat masih duduk di bangku sekolah.

Penasaran? Mari simak!

BENTENG PASIR IPIS

Lokasinya ada di Lembang, Benteng Pasir Ipis merupakan bangunan peninggalan Pemerinta Belanda. Meski belum masuk ke dalam daftar cagar budaya, Benteng Pasir Ipis menyimpan banyak sejarah, terutama soal perjuangan pada masa Kemerdekaan Indonesia. Dengan panjang satu kilometer, benteng yang berdiri pada 1891 ini berfungsi sebagai barikade pertahanan bagi tentara Belanda.

Baca Juga:  Pemkot Bandung Raih Hasil BB, Evaluasi SAKIP dan RB Tahun 2020

GEDUNG JAARBEURS

Pariwisata Bandung berkembang pesat karena gedung yang satu ini. Dibangun pada zaman Pemerintahan Belanda, Gedung Jaarbeurs merupakan tempat di mana Festival Braga pertama kali digelar. Seperti yang diketahui, Festival Braga merupakan pameran budaya tertua di Bandung yang memperkenalkan banyak sekali kesenian. Sebagai informasi, festival ini sudah 201 kali gelar, lho!

GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT

Di rumah inilah, puluhan tahun yang lalu, Presiden Soekarno memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Soekarno membacakan pidato pembelaan untuk tiga rekannya, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Pidato tersebut kemudian dianggap sebagai salah satu momen penting penentang kolonialisme di Indonesia.

BIDAKARA HOTEL

Bangunan bergaya art deco ini menjadi hotel di mana para anggota Konferensi Akbar Asia-Afrika bermalam. Nama-nama pemimpin seperti Ir Soekarno, Ho Chi Minh da Tito beristirahat di sini sebelum mengikuti konferensi yang digelar pada 1955 ini. Sebelumnya, hotel ini sempat dijadikan barak mewah para prajurit Jepang pada masa penjajahan.

Baca Juga:  Disiplin Prokes, PTM di Kota Bandung Berjalan Lancar

GOA BELANDA DAN JEPANG

Pada masa penjajahan Belanda, Goa Belanda digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata tentara Belanda. Di sana juga menjadi tempat pembantaian tentara pribumi oleh tentara Belanda. Nggak heran jika goa ini terasa angker. Goa Belanda pun dijadikan sebagai tempat wisata di Dago Pakar. Banyak juga wisatawan yang berkunjung ke sana. Meskipun bisa dikunjungi siapa aja, tapi kamu nggak boleh bertindak sembarangan di sana, salah satunya dilarang menyebut kata “lada”. Karena, Lada adalah nama sesepuh mereka. Jika mendengar kata itu, penunggu goa bisa marah.

MUSEUM MERDEKA

Nah, nggak jauh dari Hotel Bidakara, terdapat Gedung Merdeka. Pada tahun 1955, Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika digelar di sini. Dirancang oleh Van Galen Last dan C.P Wolff Schoemaker, gedung ini menjadi saksi lahirnya Dasasila Bandung yang berisi tentang pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerjasama dunia paska rezim kolonialisme. Berbagai barang peninggalan konferensi tersebut masih dapat dilihat di museum ini.

Baca Juga:  Keren! Vaksinasi Covid-19 di Kota Bandung saat ini Telah Mencapai 71 Persen

MUSEUM MANDALA WANGSIT SILIWANGI

Lokasinya ada di jalan Lembong 38. Museum Mandala Wangsit Siliwangi merupakan bekas markas militer yang menjadi sasaran utama serangan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pada 1950. Serangan ini merupakan usaha kudeta terhadap Soekarno oleh kroni-kroni Belanda yang menghilangkan nyawa banyak anggota TNI kala itu. terdapat koleksi aneka jenis senjata tradisional, seperti kujang, klewang, pedang bambu, dan keris yang digunakan menghalau serangan tersebut.

GEDUNG SATE

Terletak di jalan Diponegoro No.22, Gedung Sate berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Jawa Barat. Gedung Sate menawarkan banyak benda-benda bersejarah peninggalan pemerintahan kota Bandung dan Belanda. Dibangun pada 1920, Gedung Sate memiliki sebuah tugu bertuliskan “Dalam mempertahankan Gedung Sate terhadap serangan pasukan Gurhaka tanggal 3 Desember 1945, tujuh pemuda gugur dan dikubur pihak musuh di halaman”.

(dra)