Menu

Mode Gelap
 

Kesehatan · 9 Mei 2021 03:58 WIB

Alasan Kenapa Makanan Bisa Pengaruhi Kualitas Otak dan Mental


 Ilustrasi Usus. (Foto: pixabay/Jimcoote) Perbesar

Ilustrasi Usus. (Foto: pixabay/Jimcoote)

BANDUNG NEWS – Makanan yang kita makan dapat memiliki efek yang sama besarnya pada otak dan kesehatan mental  seperti obat yang diresepkan oleh dokter. Alasannya: Perut dan otak kita terus berkomunikasi satu sama lain.

Seorang psikoterapi, Umma Naido, pernah dikunjungi pasien yang mengeluh karena tidak mengerti kenapa konsumsi makanan bisa memengaruhi otak dan mental.

Ia kemudian menjelaskan, meskipun usus dan otak bertempat di berbagai bagian tubuh, keduanya terhubung secara fisik.

The vagus saraf, juga dikenal sebagai “pengembara saraf,” berasal di batang otak dan perjalanan sepanjang jalan ke usus, yang menghubungkan usus ke sistem saraf pusat. Ketika mencapai usus, ia akan melepaskan dirinya sendiri untuk membentuk benang-benang kecil yang membungkus seluruh usus dengan penutup yang tidak dapat diatur yang terlihat seperti sweter rajutan yang rumit.

Baca Juga:  7 Manfaat Buah Naga untuk Menjaga Stamina Tubuh

Karena saraf vagus menembus dinding usus, ia memainkan peran penting dalam pencernaan makanan. Tetapi fungsi utamanya adalah memastikan bahwa sinyal saraf dan bahan kimia tubuh dapat berjalan bolak-balik antara usus dan otak, membawa informasi penting di antara keduanya, dan membuat otak dan usus menjadi terhubung seumur hidup.

Romansa Otak-Usus

Dasar dari semua komunikasi tubuh adalah kimiawi. Di otak, bahan kimia ini berasal dari bagian utama sistem saraf (dengan bantuan sistem endokrin): sistem saraf pusat, yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang; sistem saraf otonom (ANS), yang terdiri dari sistem simpatis dan parasimpatis; dan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (sumbu HPA), yang terdiri dari hipotalamus, kelenjar pituitari, dan kelenjar adrenal.

Sistem saraf pusat menghasilkan bahan kimia seperti dopamin, serotonin, dan asetilkolin yang sangat penting untuk mengatur suasana hati dan memproses pikiran dan emosi. Serotonin, zat kimia utama yang kekurangan dalam otak orang yang depresi dan cemas, memainkan peran utama dalam mengatur poros otak-usus. 

Baca Juga:  Bagaimana Cara Memaafkan Seseorang dengan Tulus?

Serotonin adalah salah satu bahan kimia otak yang paling banyak dibicarakan karena perannya dalam suasana hati dan emosi, dan lebih dari 90% reseptor serotonin ditemukan di usus.

Dalam tubuh yang sehat, semua bahan kimia otak ini memastikan bahwa usus dan otak bekerja sama dengan lancar. Tentu saja, seperti dalam semua sistem yang rumit, ada yang bisa salah. Ketika kelebihan atau kekurangan bahan kimia mengganggu hubungan ini, keseimbangan usus-otak menjadi kacau. Tingkat bahan kimia penting rusak. Suasana hati sedang kesal. Konsentrasi terganggu. Kekebalan menurun. Penghalang pelindung usus dikompromikan, dan metabolit serta bahan kimia yang harus dijauhkan dari otak mencapai otak dan mendatangkan malapetaka.

Baca Juga:  Jika Muncul 5 Tanda Anda ini Perlu Konsultasi ke Psikolog

Kekacauan kimiawi ini menimbulkan gejala kejiwaan, dari depresi dan kecemasan hingga kehilangan libido hingga kondisi yang menghancurkan seperti skizofrenia dan gangguan bipolar.

Untuk memperbaiki ketidakseimbangan kimiawi itu dan memulihkan ketertiban otak dan tubuh, kita mungkin berasumsi bahwa kita membutuhkan obat-obatan canggih yang direkayasa dengan cermat. Dan sampai taraf tertentu, kita benar! Sebagian besar obat yang digunakan untuk mengobati kondisi mental berusaha mengubah bahan kimia ini untuk mengembalikan otak ke keadaan sehat — misalnya, penghambat reuptake serotonin selektif (paling sering disebut sebagai SSRI), yang meningkatkan serotonin untuk melawan depresi

Namun, yang terkadang luput dalam diskusi tentang kesehatan mental adalah kebenaran sederhana: Makanan yang kita makan dapat memiliki efek yang sama besarnya pada otak seperti obat yang kita konsumsi.

(dra)

 

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

5 Jenis Makanan untuk Kesehatan Ginjal

10 Juli 2022 - 15:01 WIB

Rentan Alami Stres, Mahasiswa Jangan Ragu Untuk Cari Pertolongan

22 November 2021 - 11:21 WIB

Kemenkes Terbitkan Situs Resmi Cek Stok Vaksin Covid-19

24 Agustus 2021 - 13:49 WIB

Vaksin

Kenali Lima Kebiasaan Buruk Ini Bisa Menganggu Kesehatan Tubuh

18 Agustus 2021 - 14:43 WIB

Kemenkes Hapus Vaksin Gotong Royong Berbayar

17 Agustus 2021 - 14:13 WIB

Resmi, BPOM Izinkan 8 Jenis Obat yang Bisa Digunakan Terapi Covid-19

15 Juli 2021 - 11:01 WIB

Trending di Kesehatan