Asal Usul Munculnya Dayeuhkolot Bandung


dayeuhkolot
Dayeuhkolot Tempo Doeloe. (Foto: Pinterest)

BANDUNG NEWS – Sebelum dikenal dengan nama Dayeuhkolot, dulu daerah itu bernama Karapyak, yang berarti “rakit penyeberangan” disusun dari batang-batang bambu.

Karapyak adalah daerah yang ditinggali para Bupati Bandung sampai tahun 1810, di mana Bupati Bandung saat itu ialah R.A Wiranatakusumah II yang menjabat dari tahun 1794 sampai 1829 M.

Kemudian Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang bernama Daendels, memindahkan pendopo Kabupaten Karapyak ke tepi sungai Cikapundung. Pemindahan itu dilakukan dengan alasan agar daerah bisa lebih berkembang.

Baca Juga:  Robert Akui Belum Ada Informasi Resmi Soal Kelanjutan Liga 1

Akibat dipindahkannya pusat pemerintahan, maka segala hal yang berkaitan dengan pemerintahan dan perekonomian beralih ke daerah baru. Sementara Karapyak yang semula merupakan pusat pemerintahan disebut orang-0rang sebagai Kota Tua atau Kota Lama.

Baca Juga:  Serlok Bantaran, Destinasi Wisata Edukasi Alam Baru di Kota Bandung

Karena itulah, daerah yang dahulu bernama Karapyak hari ini disebut Dayeuhkolot. Dalam bahasa Sunda Dayeuh berarti kota, dan kolot berarti tua.

Topografi

Dayeuhkolot merupakan daerah rawan banjir di Bandung. Bersama dengan Baleendah, kecamatan ini menjadi daerah siaga bila musim penghujan tiba.

Kajian karakter DAS Citarum (2011) mendapatkan bahwa 94% (sekitar 879,8 ha) wilayah Dayeuhkolot berpotensi terkena banjir setiap tahun. Wilayah ini termasuk DAS Citarum bagian hulu.

Baca Juga:  Pemkot Bandung Optimis Targetkan Tercipta Herd Immunity Akhir Tahun 2021

Karena letak geografis Dayeuhkolot dan Baleendah yang berdekatan (bahkan berbatasan) dengan Kota Bandung, maka dapat dipastikan jalur transportasi dari/ke Kota Bandung yang padat pun terputus selama banjir dan melumpuhkan kegiatan ekonomi masyarakat.

Hal inilah yang menjadi masalah bersama pemerintah Kabupaten dan Kota Bandung.

(dra)