Menu

Mode Gelap
 

Opini · 17 Agu 2022 12:51 WIB

BIAN (Bulan Imunisasi Anak Nasional) Program Meningkatkan Cakupan Imunisasi Anak


 sumber: cnnindonesia.com Perbesar

sumber: cnnindonesia.com

SEBAGAIMANA yang telah kita ketahui Imunisasi adalah suatu proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara memasukkan vaksin, yakni virus atau bakteri yang sudah dilemahkan, dibunuh, atau bagian-bagian dari bakteri (virus) tersebut telah dimodifikasi.

Adanya pandemi COVID-19 mengakibatkan pelaksanaan imunisasi rutin tidak dapat berjalan optimal.

Sekitar 800 ribu anak di seluruh Indonesia berisiko lebih besar tertular penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti difteri, tetanus, campak, rubella, dan polio.

Berdasarkan data data rutin Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, telah terjadi penurunan capaian imunisasi dasar lengkap yang cukup signifikan pada tahun 2020 – 2021 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dimana capaian pada tahun 2020 sebesar 84,2% dari target 92,9% dan capaian tahun 2021 juga hanya mencapai 84,2% dari target 93,6%.

Selain penurunan capaian imunisasi dasar lengkap, Capaian imunisasi campak-rubela lanjutan baduta juga mengalami penurunan pada tahun 2020 dan 2021, dimana capaian pada tahun 2020 sebesar 65,3% dari target 76,4% dan capaian tahun 2021 hanya mencapai 58,5% dari target 81%.

Baca Juga:  Konsolidasi Demokrasi: Gagasan Lembaga Peradilan Khusus Pemilukada

Penyebab cakupan Imunisasi anak rendah selama pandemic Covid-19, diantaranya adalah sebagai berikut:

– Adanya gangguan rantai pasokan
– Aturan pembatasan kegiatan
– Jumlah tenaga kesehatan yang terbatas
– Orangtua/wali asuh enggan ke faskes karena takut tertular Covid-19.

Dalam rangka meningkatkan cakupan Imunisasi Anak yang rendah akibat Pandemi Covid-19, pada tahun 2022 ini Kementerian Kesehatan RI mencanangkan program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN). Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) adalah kegiatan pemberian imunisasi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Kementerian Kesehatan RI mengajak Kementerian/Lembaga terkait, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota beserta perangkat kerjanya, Organisasi Masyarakat Sipil, Organisasi Keagamaan, Tim Penggerak PKK, Organisasi Profesi Kesehatan dan LembagaLembaga Swadaya Masyarakat untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam menyukseskan Bulan Imunisasi Anak Nasional.

Baca Juga:  Kang Icak, Sosok Pemimpin dan Orang Tua yang Mantap Pisan

Bulan Imunisasi Anak Nasional dilaksanakan di Posyandu, Satuan Pendidikan/ Pesantren, Puskesmas, Fasyankes lain dan Pos Imunisasi Program ini dilakukan dalam dua tahap:

– Tahap I pelaksanaan BIAN dimulai pada Mei 2022 di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

Vaksin yang diberikan berupa imunisasi campak rubela untuk usia 9 sampai 15 tahun, serta imunisasi kejar untuk anak usia 12 sampai 59 bulan yang tidak lengkap imunisasi OPV, IPV, dan DPT-HB-Hib.

– Tahap II berlangsung pada Agustus 2022 di Jawa dan Bali. Vaksin yang diberikan adalah vaksin campak rubella yang menyasar usia 9 sampai 59 bulan, dan imunisasi kejar pada anak usia 12 sampai 59 bulan yang tidak lengkap imunisasi OPV, IPV, dan DPT-HB-Hib.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin meminta orang tua dan pengasuh untuk membawa anaknya yang belum mendapat imunisasi lengkap ke Puskesmas, Posyandu dan fasilitas kesehatan lainnya selama Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) berlangsung.

Baca Juga:  Demokrasi Semu Indonesia

Seperti yang dilansir dalam Website UNICEF Indonesia, secara global, vaksinasi menyelamatkan lebih dari lima nyawa setiap menit dan mencegah hingga tiga juta kematian per tahun.

Hal ini menjadikan vaksinasi sebagai salah satu kemajuan paling signifikan dalam kesehatan dan pembangunan global.

Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr N. Paranietharan menambahkan, anak-anak yang divaksinasi tidak hanya lebih sehat, tapi mereka bisa berprestasi lebih baik di sekolah, dan menghasilkan manfaat ekonomi yang mempengaruhi seluruh masyarakat.

“Vaksin yang disetujui WHO aman dan terbukti secara ilmiah efektif mencegah penyakit seperti campak, rubella, polio, difteri, dan tetanus. Tanpa adanya semua vaksin ini, anak-anak anda bisa
terkena penyakit-penyakit berbahaya ini, dan dapat berakibat kematian,” tutur Paranietharan.***

Penulis : Khalida Hilwa
Prodi/ Kampus: Kesehatan Masyarakat/Universitas Indonesia

Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Stunting Masih Menjadi Masalah Kesehatan di Indonesia, Apa Upaya Pemerintah?

20 Agustus 2022 - 19:53 WIB

Layanan Kesehatan Telemedicine di Indonesia Semakin Berkembang

17 Agustus 2022 - 10:47 WIB

Hari Anak Nasional, Antara Cita-cita dan Fakta

23 Juli 2022 - 07:10 WIB

Saki Hati Fallasi

18 Juli 2022 - 17:47 WIB

Idul Adha dan Sikap Profesional Ibrahim

9 Juli 2022 - 20:24 WIB

Penjabat Kepala Daerah Diharapkan Profesional dan Netral dalam Pilkada 2024

11 Juni 2022 - 22:35 WIB

Trending di Opini