Menu

Mode Gelap
 

Opini · 9 Jul 2022 20:24 WIB

Idul Adha dan Sikap Profesional Ibrahim


 Idul Adha dan Sikap Profesional Ibrahim Perbesar

BANDUNG NEWS – Nabi Ibrahim AS bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih putra yang dicintainya, Nabi Ismail AS. Ketika Sang Nabi hendak melakukannya, tiba-tiba Allah mengganti Ismail dengan seekor domba gemuk.

Begitulah puncak kisah Nabi Ibrahim AS yang diminta Allah untuk mengorbankan Ismail AS sebagai bukti kesetiaan, yang ditulis Ibnu Katsir dalam buku Kisah Para Nabi (2015).

Kisah ini sangat erat kaitannya dengan Idul Adha yang dirayakan umat Islam hari ini di seluruh dunia.

Setiap hari raya Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban setelah menggelar shalat Ied. Salah satu tujuannya untuk mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim AS.

Kisah Nabi Ibrahim AS yang dihubungkan dengan penyembelihan hewan kurban pada hari raya Idul Adha tentu bukan sekedar seremonial belaka, melainkan ada pesan moral di dalamnya.

Baca Juga:  BIAN (Bulan Imunisasi Anak Nasional) Program Meningkatkan Cakupan Imunisasi Anak

Terkait hikmah dan pesan moral dari peristiwa Idul Adha, menurut saya, setidaknya ada dua poin:

Pertama, Nabi Ibrahim AS memilih untuk bersikap profesional sebagai Nabi yang diharuskan untuk patuh dan taat kepada Allah tanpa keraguan sedikiti pun — bahkan jika Allah memberi perintah untuk menyembelih putra kesayanganya, Ismail.

Dari sikap Nabi Ibrahim AS kita bisa ambil pelajaran tentang profesionalitas baik sebagai pengusaha, politikus, pengajar dan profesi lain yang menuntut kepatuhan pada posisi dan tugas.

Misalnya, ada seseorang yang ditakdirkan Allah menjadi seorang pejabat memiliki anak yang berkeinginan untuk duduk di posisi tertentu. Apa yang harus ia lakukan?

Baca Juga:  Dikawal Para Santri, Abu Bakar Ba'asyir Mengikuti Upacara Kemerdekaan RI ke-77

Jika dia mengambil sikap seperti Nabi Ibrahim AS lakukan, maka dia tidak serta merta ‘memberikan’ posisi tertentu pada anaknya sendiri tanpa test and proper test. Memberi jabatan hanya karena hubungan keluarga, hal itu jelas bukan sikap Ibrahim – tidak profesional.

Setiap pejabat seharusnya dapat meng-Ibrahim-kan diri dengan mengambil sikap yang patuh pada idealisme dan menjauhi nalar fallasi (argumentum ad favoritism).

Kedua, Ibrahim adalah salah satu Nabi yang sangat dominan menggunakan nalar rasional dalam menjalankan agama. Bahkan kisah populer menyebut beberapa cerita terkait Nabi Ibrahim AS mencari Tuhan dengan cara mengeliminasi bulan, matahari sampai menemukan Allah.

Baca Juga:  Terbangkan Layangan, Ridwan Kamil Disambut Antusiasme Warga Sukabumi

Namun, kenapa Nabi Ibrahim AS yang rasional tidak meragukan sedikit pun perintah Allah untuk menyembelih Ismail, tanpa meminta alasannya?

Jawabannya jelas: cintanya pada Allah melebihi cintanya pada makhluk.

Dari sini kita bisa mengambil hikmah, sebagai orang yang mengaku muslim, Allah sepatutnya menjadi puncak cinta dibanding kepada makhluknya. Jika tidak demikian, kita seringkali tidak menjalankan perintah Allah hanya karena pertimbangan ‘duniawi’.

Muslim yang baik adalah muslim yang menjalankan Islam secara kaffah (komprehensif), dan islam komprehensif hanya bisa diraih dengan patuh pada seluruh perintah Allah SWT.

Oleh : Eko Surya Effendi
(Kolumnis Bandungnews.id)

Artikel ini telah dibaca 95 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Stunting Masih Menjadi Masalah Kesehatan di Indonesia, Apa Upaya Pemerintah?

20 Agustus 2022 - 19:53 WIB

BIAN (Bulan Imunisasi Anak Nasional) Program Meningkatkan Cakupan Imunisasi Anak

17 Agustus 2022 - 12:51 WIB

Layanan Kesehatan Telemedicine di Indonesia Semakin Berkembang

17 Agustus 2022 - 10:47 WIB

Hari Anak Nasional, Antara Cita-cita dan Fakta

23 Juli 2022 - 07:10 WIB

Saki Hati Fallasi

18 Juli 2022 - 17:47 WIB

Penjabat Kepala Daerah Diharapkan Profesional dan Netral dalam Pilkada 2024

11 Juni 2022 - 22:35 WIB

Trending di Opini