Lekas Sembuh (Manusia) Bumiku


Pegiat Literasi
Budi Hikmah, Penulis Buku dan Tokoh Pemuda Purwakarta.

BANDUNG NEWS – Suatu hari, Anak sekolah itu memosting doa: “Lekas Sembuh Bumiku”… di semua akun Medsos-nya. Seketika itu Bumi merintih, menyaksikan doa yang terbang-menghilang ke atas Anak sekolah itu yang berjalan meninggalkan sekolahan dengan menggandeng tangan pacarnya.

“Mesra betul kalian, membuatku cemburu.”
Terdengar lirih Bumi, langit pun berkata, “Wahai kekasihku, janganlah Engkau sakit hati!”

Dan di Kamar Melati, Anak muda itu memosting doa yang sama: “Lekas Sembuh Bumiku”… di semua akun Medsos-nya. Seketika itu Bumi menangis, menyaksikan doa yang hancur berkeping-keping, berserakan di bawah ranjang Anak muda itu yang meniduri pacarnya.

“Nikmat betul kalian, di atas kegetiranku menahan rindu kepada kekasih halalku, kalian mantap-mantapan.” Langit pun lantas berupaya untuk menenangkan Bumi, kekasih halalnya.

Namun sekelebat Bumi melihat sesuatu di balik gedung-gedung megah dan rumah-rumah mewah itu, terjadi kesewenang-wenangan atas apa yang mereka keruk dari dalam dirinya. Sedang di balik gubuk di kampung-kampung itu, Ia melihat masyarakat kekeringan lahir bathin karena sumber daya alam dari dirinya dikorup sesadis yang tak pernah terkira.

Hingga Ia menangis menjerit tak tega menyaksikan ketimpangan pada peradaban manusia yang menetap di atas dirinya. Sekaligus jengah terhadap doa-doa yang sarat manipulasi, dicetak sebesar mungkin, disebar, dipajang di sepanjang jalan oleh mereka: “Lekas Sembuh Bumiku “., dengan terus menerus mereka bertikai di bumi; membanjirinya dengan amis darah yang tertumpah deras sebab pertikaian di antara mereka. Oleh sebab itu, Bumi terluka hatinya, menangis sejadi-jadinya.

Baca Juga:  Wargi Bandung, Jangan Lewatkan Foto Bareng Ariel Noah dan Al Ghazali di 3Second Family Store, Begini Caranya!

Langit yang tak kuasa menatap Bumi menjerit semakin kencang, membisikkan ucapan mesranya melalui angin. Bumi tak kunjung teredam, lantas Langit mendekap kekasihnya itu dengan menghujaninya.

Di sana, Anak sekolah itu ditanya oleh Simbah Putih. “Nak, memangnya Bumi sedang sakit apa?”

Simbah Putih pun bertanya kepada Anak muda itu. “Heh, memangnya Bumi sakit kenapa?”

Mereka berdua kebingungan atas pertanyaan Simbah. Persis seperti para elit itu, meskipun terbilang cendekiawan dan banyak uang, tetapi mereka tidak tahu bagaimana harus mengobati bumi yang diharapkan untuk lekas sembuh itu.

Dan di sini, setelah dimufakati menjadi presiden, Saya disuruh untuk segera melakukan pidato kenegaraan yang pertama kalinya.

“… ya, di 2024 ini, Dua Program besar Saya akan secepatnya direalisasikan. Saya hendak mematangkan dulu mekanismenya, semuanya, sebelum nanti Kita akan diskusikan secara nasional. Gambaran singkatnya begini: Pertama, Saya akan membuat batasan-batasan yang tegas untuk para pemuda-pemudi dalam melakukan kegiatan sosial. Supaya enggak nyampur seenaknya, tanpa ada urgensi. Apalagi mereka yang suka mesra-mesraan; mantap-mantapan di luar nikah alias tidak halal, itu enggak benar itu, melukai hati Bumi dan Langit, itu membuatnya cemburu!.”

Baca Juga:  Wargi Bandung, Jangan Lewatkan Foto Bareng Ariel Noah dan Al Ghazali di 3Second Family Store, Begini Caranya!

“Terus Kedua, Saya akan membuat batasan juga pada ranah finansial personal, sehingga dapat berdampak pada tatanan kehidupan komunal. Saya akan membatasi tabungan keluarga dengan maksimal saldo rekening di nominal 20juta per KK. Untuk yang masih ber-kekurangan, ya enggak apa-apa. Bagi yang ber-kelebihan, sungguh itu kesempatan besar buat beramal baik. Nominal yang disumbangkan oleh mereka yang ber-kelebihan akan dikumpulkan di rumah amal, lalu digunakan untuk mengentaskan kemiskinan dan mengikis ketimpangan juga sebagai upaya menghapuskan kesenjangan sosial yang sudah semakin parah luar biasa. Saya harap, Kita dapat bersama-sama menyukseskan hal tersebut.”

Dan di sini, segenap warga sangat menikmati betul pidato Saya yang mempresentasikan program nasional itu. Mereka mengonfirmasi bahwa semua hal itu bertujuan baik untuk kepentingan hajat hidup bangsa Kita. Saat mendengar pemaparan tentang pembatasan tabungan keluarga dan amal kedermawanan, mereka langsung terbayangkan Nabi-nabi Allah yang senantiasa berhasil membangun peradaban madani sekalipun dengan berletih-letih, bersusah payah, bahkan tak jarang dengan melakukan langkah-langkah di luar jangkauan logika mainstream.

Baca Juga:  Wargi Bandung, Jangan Lewatkan Foto Bareng Ariel Noah dan Al Ghazali di 3Second Family Store, Begini Caranya!

Sekaligus dengan Sahabat-sahabatnya yang begitu dermawan pula sebagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf beserta yang lain-lainnya. Mereka pun terbayangkan, apabila segenap Anak muda itu dapat diorganisir dengan baik, diakomodir dengan bijak, maka kebajikan demi kebajikan akan menjadi suatu keniscayaan. Terlebih lagi, mereka kira dengan pembatasan seperti yang Saya programkan itu, maka Anak-anak muda akan lebih dekat pula dengan cita-cita mereka dapat meneladani Nabi-nabi Allah beserta Para Sahabatnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sedang di sana, Simbah Putih yang tadi bertanya, lenyap; dihilangkan. Para elit yang mampu mengondisikan Anak mudanya, dengan sangat mudah melakukan provokasi, menyulut emosi Para Anak muda yang segar-bugar itu sehingga mereka tega-teganya melenyapkan Simbah Putih yang sudah renta. Ibarat Kaum Samud yang menyembelih unta betina itu, setelah mereka semua membunuh Simbah Putih, kemudian suara yang mengguntur menimpa mereka sebagai orang-orang zalim sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya.

Pada akhirnya, Saya pun berharap, manusia-manusia di bumi sana, lekas sembuh dari entah penyakit apa yang diderita mereka, entah penyebabnya apa dan entah apa pula obatnya. Lekas sembuh manusia bumiku.

Budi Hikmah
(Penulis Buku dan Tokoh Pemuda Purwakarta)