Pemkot Bandung Tegaskan Pelayanan Pasien Covid-19 Tak Bedakan Domisili


Pemkot
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna. (Foto: net)

BANDUNG NEWS – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya memberikan pelayanan maksimal bagi pasien terinfeksi Covid-19. Untuk urusan rumah sakit, Pemkot Bandung tak membedakan domisili pasien.

Meskipun hal itu membuat Occupancy Rate (BOR) atau tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit di Kota Bandung selalu tinggi.

“Kalau ada pertanyaan kenapa BOR selalu tinggi? Ya itu persoalannya. Karena banyak orang yang mengakses pelayanan kesehatan yang ada di Bandung, semuanya RS rujukan. Itu berdampak, karena indikator yang menjadi perhitungan, BOR termasuk kematian,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna, di Jalan Arjuna Kota Bandung, dikutip dari jabarnews.com, Kamis (22/7/2021).

Baca Juga:  Semakin Membaik, Pasien Covid -19 di Kota Bandung Turun 64,13%

Ema mengungkapkan, apabila rumah sakit di Kota Bandung hanya menangani warga domisili Kota Bandung maka memperkirakan BOR di bawah 60 persen.

Namun karena menjadi rujukan dari berbagai daerah, maka BOR rumah sakit di Kota Bandung tinggi. Dari 29 rumah sakit di Kota Bandung, sekitar 50 persennya terdapat pasien-pasien dari luar Kota Bandung.

Baca Juga:  Ratusan Ojol di Bandung Lakukan Aksi Konvoi, Ada Apa?

Sehingga, BOR yang selalu tinggi membuktikan rumah sakit di Kota Bandung memberikan pelayanan bagi pasien dari mana pun.

“Saya tidak terlalu terjebak persoalan kasus. Terpenting layanan maksimal. Karena pelayanan kesehatan kita tidak bisa (membatasi), mau penduduk mana saja boleh. Dan itu dibuktikan 45 persen itu penduduk luar Kota Bandung,” terangnya.

Baca Juga:  Usai Audiensi, Aliansi Pedagang Kota Bandung Siap Kembali Berjualan

“Jadi pelayanan dari mana pun harus dilakukan, apalagi RSHS itu milik Jawa Barat,” tegasnya.

Di samping itu, Ema menilai PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kebijakan Masyarakat) Darurat cukup berdampak positif. Selama pelaksanaan PPKM Darurat kasus Covid-19 relatif menurun.

“Kecuali BOR, tapi aktifnya (kasus) tidak terlalu masif. Kalau kumulatif itu bagian dari konsekuensi 3T (testing, tracing, treatment),” imbuhnya.

(dra)