Menu

Mode Gelap
 

Opini · 2 Okt 2020 10:11 WIB

PKM UPI Lakukan Penelitian Terkait Penyebutan Kafir Bagi Non Muslim di Indonesia


 PKM UPI Lakukan Penelitian Terkait Penyebutan Kafir Bagi Non Muslim di Indonesia Perbesar

BANDUNG. Penyebutan Kafir kepada orang-orang yang tidak memeluk agama Islam di muka umum yang di anggap akan memicu gesekan-gesekan antar sesama umat beragama baik secara internal antara umat islam di Indonesia, maupun secara ekternal antara umat islam dengan umat nonmuslim lainya, yang akhirnya akan memicu perilaku intoleransi.

Berdasarkan kekhawatiran di atas, maka Tim Program Krativitas Mahasiswa (PKM) UPI yang di ketuai Asep Soleh Mahasiswa Prodi Ilmu Pengetahuan Agama Islam angkatan 2018 yang beranggotakan Muhammad Nur Imanulyaqin mahasiswa Prodi Pendidikan sosiologi angkatan 2017, dan Leli Mulyatika Mahasiswa Prodi Pendidikan Kewarganegaraan angkatan 2017, di bawah bimbingan Asep Dahliyana, mencoba menggali informasi melalui proses penelitian dengan judul “Perspektif Tokoh NU terkait penyebutan Kafir bagi Nonmuslim di Indonesia”.

Baca Juga:  Jelang Semi Final Liga Champion, Kabar Buruk Menimpa Real Madrid

Setelah penelitian ini dilakukan maka terdapat beberapa poin penting yang harus di garis bawahi. Pertama rekomendasi penggantian penyebutan kafir kepada nonmuslim bukanlah fatwa melainkan hanya sekedar himbawan sebagai cerminan perilaku toleransi beragama.

“Selanjutnya, rekomendasi ini hanya berlaku dalam konteks muamalah dan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Sedangkan dalam konteks aqidah term kafir sudahlah jelas,” kata Asep Soleh, Jum’at (2/10/2020).

Baca Juga:  Film 'Guru-Guru Gokil' Bakal Tayang di Netflix

Ketiga hal ini merupakan bentuk sikap kemasyarakatan organisasi NU yang berpegang kepada prinsip tasammuh.
Kesimpulannya, terlepas dengan segala hiruk-pikuk yang terjadi, semestinya kita dapat memposisikan diri dalam penyebutan term kafir ini.

“Untuk orang-orang yang sependapat dipersilahkan untuk mengikutin dan melaksanakannya dan untuk yang tidak sependapat di persilahkan untuk menghindarinya dengan tidak membesar-besarkan masalah ini, agar tidak terjadi perdebatan-perdebatan yang berujung mengganggunya keharmonisan kehidupan bangsa ini,” tandas Sholeh.

Baca Juga:  DPR Minta KH. Syaikhona Kholil Dapat Gelar Pahlawan Nasional 10 November 2021

(Mil)

 

Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

BIAN (Bulan Imunisasi Anak Nasional) Program Meningkatkan Cakupan Imunisasi Anak

17 Agustus 2022 - 12:51 WIB

Layanan Kesehatan Telemedicine di Indonesia Semakin Berkembang

17 Agustus 2022 - 10:47 WIB

Hari Anak Nasional, Antara Cita-cita dan Fakta

23 Juli 2022 - 07:10 WIB

Saki Hati Fallasi

18 Juli 2022 - 17:47 WIB

Idul Adha dan Sikap Profesional Ibrahim

9 Juli 2022 - 20:24 WIB

MoC Kini Hadir di 23 Paskal Shopping Center, Ada Koleksi Anti Baju Anti Bau hingga Promo Menarik

26 Juni 2022 - 07:23 WIB

Trending di Kota Bandung