Menu

Mode Gelap
Yayasan Nuraini Najamudin Raih Penghargaan The most Excellent Islamic Foundation 2022 dari CISA London

Opini · 2 Okt 2020 10:11 WIB

PKM UPI Lakukan Penelitian Terkait Penyebutan Kafir Bagi Non Muslim di Indonesia


 PKM UPI Lakukan Penelitian Terkait Penyebutan Kafir Bagi Non Muslim di Indonesia Perbesar

BANDUNG. Penyebutan Kafir kepada orang-orang yang tidak memeluk agama Islam di muka umum yang di anggap akan memicu gesekan-gesekan antar sesama umat beragama baik secara internal antara umat islam di Indonesia, maupun secara ekternal antara umat islam dengan umat nonmuslim lainya, yang akhirnya akan memicu perilaku intoleransi.

Berdasarkan kekhawatiran di atas, maka Tim Program Krativitas Mahasiswa (PKM) UPI yang di ketuai Asep Soleh Mahasiswa Prodi Ilmu Pengetahuan Agama Islam angkatan 2018 yang beranggotakan Muhammad Nur Imanulyaqin mahasiswa Prodi Pendidikan sosiologi angkatan 2017, dan Leli Mulyatika Mahasiswa Prodi Pendidikan Kewarganegaraan angkatan 2017, di bawah bimbingan Asep Dahliyana, mencoba menggali informasi melalui proses penelitian dengan judul “Perspektif Tokoh NU terkait penyebutan Kafir bagi Nonmuslim di Indonesia”.

Baca Juga:  Ini 11 Manfaat Minum Air Hangat untuk Kesehatan

Setelah penelitian ini dilakukan maka terdapat beberapa poin penting yang harus di garis bawahi. Pertama rekomendasi penggantian penyebutan kafir kepada nonmuslim bukanlah fatwa melainkan hanya sekedar himbawan sebagai cerminan perilaku toleransi beragama.

“Selanjutnya, rekomendasi ini hanya berlaku dalam konteks muamalah dan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Sedangkan dalam konteks aqidah term kafir sudahlah jelas,” kata Asep Soleh, Jum’at (2/10/2020).

Baca Juga:  Kemenag Jabar: Perkawinan Anak Jadi Problem Keberlangsungan Generasi

Ketiga hal ini merupakan bentuk sikap kemasyarakatan organisasi NU yang berpegang kepada prinsip tasammuh.
Kesimpulannya, terlepas dengan segala hiruk-pikuk yang terjadi, semestinya kita dapat memposisikan diri dalam penyebutan term kafir ini.

“Untuk orang-orang yang sependapat dipersilahkan untuk mengikutin dan melaksanakannya dan untuk yang tidak sependapat di persilahkan untuk menghindarinya dengan tidak membesar-besarkan masalah ini, agar tidak terjadi perdebatan-perdebatan yang berujung mengganggunya keharmonisan kehidupan bangsa ini,” tandas Sholeh.

Baca Juga:  Kylian Mbappe Sebut Neymar Sangat Pantas Mendapatkan Ballon d'Or

(Mil)

 

Artikel ini telah dibaca 45 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

HARAPAN MUNAS 11 MN KAHMI: Di Antara Idealisme Gagasan dan Pragmatisme Ticket

8 November 2022 - 20:45 WIB

Komunitas Kretek Gelar Bedah Buku Nicotine War Karya Wanda Hamilton di Unpad

3 November 2022 - 14:21 WIB

Golkar Jawa Barat Makin Mantap, Siap Menang Pemilu 2024

20 Oktober 2022 - 18:26 WIB

Rektor UICI Resmi Buka Digital Kampus Orientasi Mahasiswa Batch Tiga

21 September 2022 - 12:44 WIB

Stunting Masih Menjadi Masalah Kesehatan di Indonesia, Apa Upaya Pemerintah?

20 Agustus 2022 - 19:53 WIB

BIAN (Bulan Imunisasi Anak Nasional) Program Meningkatkan Cakupan Imunisasi Anak

17 Agustus 2022 - 12:51 WIB

Trending di Opini