Menu

Mode Gelap
Yayasan Nuraini Najamudin Raih Penghargaan The most Excellent Islamic Foundation 2022 dari CISA London

News ยท 11 Agu 2020 03:09 WIB

PM Libanon Resmi Mundur Pascaledakan Beirut


 Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab/Net Perbesar

Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab/Net

BANDUNGNEWS.ID- Perdana Menteri Libanon Hassan Diab resmi mengumumkan pengunduran diri di tengah krisis politik pascaledakan di Pelabuhan Beirut 4 Agustus lalu.

Dilansir CNN, pengunduran diri Diab disampaikan pada Senin (10/8) malam waktu setempat, kurang dari seminggu setelah ledakan besar di Beirut. Perdana Menteri Hassan Diab menyampaikan secara langsung pengunduran dirinya dan pemerintahannya.

“Hari ini kami mengindahkan orang-orang dan tuntutan mereka untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab atas bencana,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi.

Baca Juga:  KCD Wilayah III Luncurkan Program One Week One Juz (OWOJ)

“Inilah mengapa hari ini saya mengumumkan pengunduran diri pemerintahan.”

Kabar pengunduran diri Diab mulanya telah diketahui sebelum rapat kabinet yang digelar Senin (10/8) sore atau malam WIB. Pengunduran diri Diab tidak terlepas dari insiden ledakan pada 4 Agustus yang menewaskan lebih dari 160 orang tersebut.

Seperti diketahui, sebelum Hassan Diab mundur, sudah ada empat menteri kabinetnya yang telah menyatakan mundur. Mereka adalah Menteri Keuangan Ghazi Wazni, Menteri Kehakiman Marie Claudie Najm, Menteri Informas Manal Abdul Samad, dan Menteri Lingkungan Damianos Kattar.

Baca Juga:  Layanan Online KKP Mudahkan Nelayan Urus Izin

Tak hanya unsur kabinet, setidaknya sebanyak sembilan anggota parlemen juga menyatakan berhenti menyusul gelombang demonstrasi warga dalam nuansa krisis politik Libanon ini.

Insiden ledakan timbunan materiam ammonium nitrat itu sekurangnya menewaskan 200 orang, menghancurkan area hingga radius 5 kilometer.

Ledakan mengakibatkan 300.000 penduduk Libanon kehilangan tempat tinggal layak akibat hancur atau rusak berat terdampak ledakan. Presiden Libanon Michel Aoun mengatakan ledakan pada Selasa (4/8) lalu disebabkan oleh timbunan amonium nitrat yang disimpan di pelabuhan tanpa pengamanan selama bertahun-tahun.

Baca Juga:  Perdana Menteri Jepang Mundur, Mencuat Rumor Sudah Muntah Darah

Bahan tersebut seharusnya dikirim ke Mozambik dari Georgia. Namun kapal tidak diizinkan meninggalkan Beirut karena belum membayar biaya pelabuhan.

Ledakan hebat tersebut menyebabkan setidaknya 160 orang meninggal dunia dan lebih dari lima ribu orang terluka. [red]

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Digelar di Ponpes Miftahul Huda, GMP Berbagi Berlangsung Khidmat

28 November 2022 - 23:25 WIB

GMP Berbagi

Bantu Rakyat Kecil, GMP Karawang Gelar Bazar Sembako Murah

27 November 2022 - 14:11 WIB

Jabar MoU dengan Pemerintah Pusat, Komitmen Pengelolaan Sampah Citarum

19 November 2022 - 07:46 WIB

Ridwan Kamil Minta Polemik Pembangunan Masjid Margonda Depok di Musyawarahkan Sebaik Mungkin

18 November 2022 - 08:08 WIB

GMP Jabar Gelar Program Peduli Kasih, 100 Warga Ikuti Pengobatan Alternatif Gratis

13 November 2022 - 11:24 WIB

Wagub Jabar Lepas Ekspor Tanaman Hias di CPF 2022

11 November 2022 - 12:28 WIB

Trending di Jabar