Menu

Mode Gelap
 

Ekbis · 28 Agu 2020 14:05 WIB

PT Krakatau Steel Ganti Logo Setelah 50 Tahun Berdiri


 PT Krakatau Steel Ganti Logo Setelah 50 Tahun Berdiri Perbesar

BANDUNGNEWS.ID,- PT Krakatau Steel (Persero) Tbk meluncurkan logo baru menjelang hari jadinya yang ke-50 tahun pada 31 Agustus 2020 mendatang.

Menurut Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim, perusahaannya kini memiliki semangat baru untuk bangkit bersama dengan industri baja nasional.

Setelah sekian lama menggunakan logo berbentuk Ladle (wadah peleburan besi dalam proses produksi baja) warna merah yang menjadi ciri khas Krakatau Steel selama 50 tahun, kali ini ini anak perusahaan BUMN itu mengusung warna biru untuk logo berbentuk K yang terdiri dari 3 (tiga) komponen yang memiliki filosofi, yakni progressive, collaborative, dan robust. 

Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim (Doc. Krakatau Steel).

Progressive bagi Krakatau Steel memiliki makna hadir sebagai perusahaan yang inovatif, bergerak beriringan dengan industri, serta mampu menghadapi segala tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada dengan sebaik-baiknya.

“Sebagai perusahaan yang mengusung nilai Progressive kami berupaya untuk terus maju dan berkembang. Inovasi sangat penting dilakukan untuk melahirkan ide-ide baru yang mendukung kinerja perusahaan serta tentunya harus dapat memberikan dampak positif bagi bangsa dan negara, khususnya pada industri baja nasional,” kata Silmy dalam keterangannya, Jumat (28/8).

Baca Juga:  Buka Pusat Studi ASEAN, Politeknik Pos Indonesia dan Kemenlu RI Teken MoU

Bentuk aplikasi nilai progressive adalah adanya program hilirisasi produk baja yang merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah produk Krakatau Steel dan mengoptimalkan utilisasi industri baja dalam negeri.

“Krakatau Steel mengedepankan semangat sharing economy yang saat ini sedang banyak dilakukan hampir di seluruh dunia. Peningkatan utilisasi pabrik baja hilir akan menjadi hal yang positif untuk industri baja dalam negeri, khususnya dalam rangka mengurangi impor produk baja yang 3 (tiga) tahun terakhir sangat tinggi sekaligus turut mendukung perkembangan para pengusaha nasional,” jelas Silmy.

Selanjutnya, dalam mengusung nilai Collaborative Krakatau Steel memegang teguh komitmen sebagai rekan dan mitra terpercaya yang menumbuhkembangkan potensi satu sama lain. Dengan teknologi dan digitalisasi, kolaborasi menjadi semakin mudah dan dampak yang dapat dicapai bisa lebih besar.

Baca Juga:  Kang Emil: Penanganan Sektor Ekonomi dan Kesehatan di tengah Pandemi Harus Beriringan
Logo lama PT Krakatau Steel

Sedangkan Robust memiliki makna kuat dan kokoh. Sehingga dengan semangatnya yang baru, Krakatau Steel dapat menyokong pembangunan infrastruktur serta menjadi perusahaan mumpuni yang mampu mendukung industri nasional.

“Dengan peluncuran logo baru Krakatau Steel, kami semua berharap Krakatau Steel dapat terus menjadi role model bagi seluruh pelaku industri baja nasional. Berkontribusi untuk bangsa dan negara, memajukan industri, pemenuhan kebutuhan baja untuk pembangunan infrastruktur, serta pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemic COVID-19,” ujar Silmy.

Tagline baru ‘Explore to Empower Krakatau Steel’ pun mengusung tekad memajukan Indonesia dengan menjadi perusahaan terpercaya dan kredibel. Krakatau Steel memberikan dorongan kekuatan agar dapat membangun kemandirian industri nasional, menciptakan kemakmuran masyarakat, serta menjadi tuan rumah di negeri sendiri baik untuk saat ini maupun di masa yang akan datang.

Baca Juga:  Pembelajaran Tatap Muka Kembali Dibuka juli 2021, Menkes: Hanya Boleh 2 Kali Dalam Seminggu

Kebutuhan Baja Meningkat.

Trend kebutuhan baja dalam negeri terus meningkat. Seperti di 2022, kebutuhan baja dalam negeri bisa mencapai 19 juta ton dan terus meningkat hingga 23,34 juta ton di tahun 2025. Meski demikian, pandemi Covid-19 memengaruhi over supply baja dipasar global, sehingga produsen baja mencari negara-negara yang nampaknya empuk untuk dapat dimasuki, salah satunya Indonesia.

Dari kapasitas produksi baja dalam negeri yang mencapai 4,9 juta ton per tahun, utilisasinya belum 100 persen. Pasalnya, industri di Indonesia diserbu oleh baja impor. Padahal, kapasitas produksi hot rolled coil masih di atas permintaan tahunan di Indonesia. Sebagai contoh, pada 2019, produksi hot rolled coil 1,37 juta ton, sementara volume permintaan mencapai 2,6 juta ton. (Amm)

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kalahkan Myanmar, Timnas Indonesia U-16 Lolos ke Final Piala AFF 2022

11 Agustus 2022 - 11:06 WIB

Jokowi Resmikan Terminal Kijing Pelabuhan Pontianak

10 Agustus 2022 - 10:51 WIB

Jokowi Kantongi Sejumlah Nama Calon Menteri PAN-RB

9 Agustus 2022 - 18:05 WIB

Kemenhub Tetapkan Batas Tarif Ojol di Tiga Zona

9 Agustus 2022 - 17:56 WIB

Update KPU: 9 Parpol Pemilu 2024 Dinyatakan Lengkap

7 Agustus 2022 - 18:41 WIB

Tersangka Roy Suryo Resmi Ditahan Selama 20 Hari

6 Agustus 2022 - 16:40 WIB

Trending di Nasional