Menu

Mode Gelap
 

Opini · 18 Jul 2022 17:47 WIB

Saki Hati Fallasi


 Ilustrasi orang sakit hati. (pixabay) Perbesar

Ilustrasi orang sakit hati. (pixabay)

BANDUNG NEWS – Setiap orang pasti melewati fase demi fase dalam hidupnya. Ia akan menapaki tingkatan demi tingkatan.

Dan orang itu pasti senang betul saat berhasil menapaki tingkatan-tingkatan tersebut. Karena demikianlah cita-citanya.

Dan dengan hal itu, Ia akan lebih dekat untuk meraih cita-citanya yang lain, yakni surga.

Betapa senangnya seseorang yang terlahir dan lantas berhasil hidup. Saat Ia telah dapat berbicara, berinteraksi dengan keluarga dan juga sesamanya, betapa senangnya Ia ketika dapat bersekolah.

Baca Juga:  Demokrasi Semu Indonesia

Kemudian Ia dapat melanjutkan pendidikan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi dan lantas berhasil kerja; berpenghasilan.

Seseorang akan senang betul bila setelah itu semua Ia dapat menapaki jenjang pernikahan dan lantas berketurunan.

Namun di balik itu semua pasti ada seseorang yang lain yang tidak turut bersenang hati atas keberhasilan-keberhasilan tersebut. Dan seseorang itu adalah tentu orang yang sakit hatinya.

Karena di saat orang lain merasakan kesenangan, Ia malah tidak. Dan begitu pula sebaliknya. Ya, orang yang hidup dengan kedengkian seperti itu, ialah orang yang hatinya sakit.

Baca Juga:  Penjabat Kepala Daerah Diharapkan Profesional dan Netral dalam Pilkada 2024

Namun pada kenyataan bahwa manusia akan melewati fase demi fase, akan menapaki tingkatan demi tingkatan, yang mana pada puncaknya itu adalah mengalami kematian, yang dengan demikian seseorang itu telah semakin dekat dengan impian terbesar dalam hidupnya (surga), malah betapa banyak orang-orang yang tidak senang akan hal itu.

Mengapa saat seseorang berhasil menapaki tingkatan demi tingkatan: terlahir, sekolah, bekerja, menikah, berketurunan ya Kita merasa senang? karena jika tidak itu berarti Kita merupakan orang yang sakit hatinya.?

Baca Juga:  Hari Minum Susu dan Ketidakadilan, Refleksi Kritis Lahirnya Pancasila dan Masa Depan Anak Bangsa

Tetapi saat seseorang itu mengalami kematian alias menapaki tingkatan terakhirnya, Kita malah bersedih luar biasa; terkesan tidak merasakan dan menampakkan kesenangan sama sekali? Tidakkah itu pun menunjukkan bahwa ternyata Kita merupakan orang yang sakit hatinya? Yang telah keliru dalam sakit hati.

Oleh: Budi Hikmah (Penulis Lepas)

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

BIAN (Bulan Imunisasi Anak Nasional) Program Meningkatkan Cakupan Imunisasi Anak

17 Agustus 2022 - 12:51 WIB

Layanan Kesehatan Telemedicine di Indonesia Semakin Berkembang

17 Agustus 2022 - 10:47 WIB

Hari Anak Nasional, Antara Cita-cita dan Fakta

23 Juli 2022 - 07:10 WIB

Idul Adha dan Sikap Profesional Ibrahim

9 Juli 2022 - 20:24 WIB

Penjabat Kepala Daerah Diharapkan Profesional dan Netral dalam Pilkada 2024

11 Juni 2022 - 22:35 WIB

Dosen UNJ: Pembelajaran Daring Sejak Pandemi Hanya Tampilkan Peserta Didik Layaknya Robot

29 Agustus 2021 - 13:00 WIB

Trending di Opini