Sebanyak 22 Mumi Mesir Kuno Dipindahkan ke Museum Nasional

  • Bagikan
Mumi
Mumi Kerajaan Mesir Kuno. Foto pixabay/ESD-SS

BANDUNG NEWS – Sebanyak 22 mumi Kerajaan Mesir kuno akan segera dipindahkan ke museum baru. Rencananya, proses pemindahan itu dilakukan dengan cara memasukkan mumi ke dalam kapsul yang dirancang khusus dan diiringi konvoi akbar.

Konvoi tersebut dilaporkan akan mengangkut 18 mumi Raja dan empat ratu dari Museum Mesir di Lapangan Tahrir Kairo menuju Museum Nasional Peradaban Mesir di Fustat, berjarak sekitar 5 km ke arah tenggara.

Pihak berwenang menutup jalan di sepanjang Sungai Nil untuk membangkitkan minat pada koleksi barang antik Mesir yang kaya, ketika pariwisata hampir seluruhnya terhenti karena pembatasan terkait COVID-19.

Baca Juga:  1000 Anggota Gereja Shincheonji Donasikan Plasma Darah

Setiap mumi akan ditempatkan dalam kapsul khusus yang diisi dengan nitrogen untuk memastikan keamanan, dan kapsul akan dibawa dengan gerobak yang dirancang untuk mengangkutnya dan memberikan stabilitas.

“Kami memilih Museum Peradaban karena untuk pertama kalinya kami ingin menampilkan mumi secara beradab, berpendidikan, dan bukan untuk hiburan seperti di Museum Mesir,” ujar arkeolog Mesir Zahi Hawass seperti dikutip Bandung News dari laman Aljazeera, Sabtu (3/4/2021)

Baca Juga:  Atasi Corona, China Bantu Amerika Latin dengan Pinjaman Dana

Dilaporkan bahwa para arkeolog menemukan mumi di dua kuil Deir el-Bahari di Luxor dan di Lembah Para Raja di dekatnya dari tahun 1871.

Yang tertua adalah Seqenenre Tao, raja terakhir dari dinasti ke-17, yang memerintah pada abad ke-16 SM dan diperkirakan mengalami kematian yang kejam.

Selain itu, Pawai juga akan menampilkan mumi Ramses II, Seti I, dan Ahmose-Nefertari. Fustat adalah situs ibu kota Mesir di bawah Dinasti Umayyah setelah penaklukan Arab.

Baca Juga:  Palestina Hari Ini: Ribuan Orang 'Dipaksa' Tinggalkan Rumah

“Dengan melakukannya seperti ini, dengan kemegahan dan keadaan yang luar biasa, mumi mendapatkan haknya,” kata Salima Ikram, seorang Egyptologist di American University di Kairo. “Ini adalah raja-raja Mesir, ini adalah para fir’aun. Jadi, ini adalah cara untuk menunjukkan rasa hormat. ”

(dra)

  • Bagikan